Home agama Jenazah Firdaus, Jamaah Haji Indonesia yang Hilang diiringi Doa Jutaan Jamaah Masjidil Haram

Jenazah Firdaus, Jamaah Haji Indonesia yang Hilang diiringi Doa Jutaan Jamaah Masjidil Haram

78
0
SHARE
Jenazah Firdaus, Jamaah Haji Indonesia yang Hilang diiringi Doa Jutaan Jamaah Masjidil Haram

MAKKAH,16NEWS-Do'a dari jutaan masyarakat Indonesia dan mereka yang salat jenazah di Masjidil Haram mengiringi Muhammad Firdaus Akhlan menuju pemakamannya. Bisnis berkesempatan mengikuti proses itu, dari pelaksanaan salat jenazah, pengantaran dengan ambulans, hingga prosesi pemakaman.

Pada Sabtu (23/5/2026) dini hari, suasana terminal Kuday di Makkah cukup ramai dengan para jemaah haji yang akan menuju Masjidilharam. Terdapat enam kloter jemaah haji Indonesia yang baru tiba di Makkah dan akan menjalankan umrah wajib melalui terminal itu—karena tiga terminal bus shalawat sudah tidak beroperasi menjelang puncak haji.

Bisnis bersama dua jurnalis dari tim Media Center Haji (MCH) berada di terminal itu untuk meliput sambil mendampingi para jemaah. Rencana itu berubah seketika. Pukul 01.45 waktu Arab Saudi (WAS) telepon berdering, salah seorang jurnalis menelepon dan menanyakan posisi kami. Rupanya, dia bersama jurnalis lain dan dua petugas Perlindungan Jemaah (Linjam) PPIH Arab Saudi akan mendampingi Nafsiah Nawan ke pemulasaran suami tercinta, Firdaus Akhlan. "Rencananya Pak Firdaus akan disalatkan di Masjidilharam," ujar salah seorang jurnalis tersebut pada Sabtu (23/5/2026) dini hari, dikutip dalam www.msn.com.

Mereka meminta kami, yang kebetulan sedang berada di dekat Masjidilharam, untuk berjaga-jaga jika jenazah almarhum Firdaus dibawa ke Masjidilharam. Mereka meminta kami segera menuju arah timur masjid, tempat ambulans parkir dan pemindahan jenazah ke buggy car, untuk dibawa ke area salah jenazah di Masjidilharam.

Telepon kembali berdering, ternyata ambulans yang membawa jenazah Firdaus sudah tiba di Masjidil Haram. Sontak kami mempercepat langkah, mengitari kawasan masjid yang penuh oleh para jemaah haji dari berbagai negara.

Ambulans nomor 51 terparkir kedua dari kiri. Kami menghampiri mobil itu lalu berkata kepada petugas "Firdausfrom Indonesia". Petugas lainnya kemudian membuka ambulans itu, lalu kami memeriksa datanya, tertulis nama lengkap Firdaus dan Indonesia dalam Bahasa Arab, beserta data-data lainnya.

Adzan pertama berkumandang saat kendaraan masih melaju. Para jemaah haji yang berjalan ke arah masjid untuk salat subuh tampak menengok ke arah kendaraan, beberapa di antaranya berhenti dan mengangkat tangan, mendo'akan saudara sesama Muslim yang telah berpulang.

Salat Jenazah Pak Firdaus di Masjidilharam

Keranda Firdaus diturunkan di area salat jenazah pada pukul 03.21 WAS. Saat itu, terdapat tujuh jenazah yang disalatkan setelah salat subuh.

Bisnis beserta para keluarga dan orang-orang lain yang mendampingi jenazah kemudian memasuki tempat salat. Deretan Al-Qur'an dalam rak berwarna emas memisahkan tempat salat itu dengan para jenazah. Di bagian belakang, terdapat rak sepatu dan wadah air zamzam, yang kami gunakan untuk minum maupun mengambil wudu.

Terdapat delapan saf sejadah di tempat salat itu, yang mulai terisi dari depan seiring mendekati waktu subuh. Lima saf pun terisi cukup penuh.

Usai salat subuh, petugas keamanan masjid atau Askar langsung mengatur barikade. Pembatas di sisi kiri dibuka, membuka jalan bagi sang imam yang naik dari eskalator untuk memimpin salat di hadapan para jenazah.

Panggilan salat jenazah pun berkumandang. Orang-orang yang berada di luar pembatas bergerak merapat, ingin salat di dekat area itu. Para petugas kebersihan, askar, turut menyalatkan para jenazah, termasuk Firdaus.

Selesai salat, semua berjalan begitu cepat. Orang-orang langsung berjalan menghampiri jenazah, menggotongnya kembali ke buggy car. Petugas masjid menggotong keranda Firdaus, kami mengikuti di samping lalu duduk menanti kendaraan untuk kembali melaju menuju ambulans. Kami beserta beberapa orang memindahkan keranda ke ambulans lalu masuk, untuk mengantar ke pemakaman.

Terdapat dua jenazah dalam ambulans nomor 51 itu. Selain kami bertiga, terdapat enam orang yang turut naik mengantar jenazah lainnya. Sepanjang perjalanan tak ada yang berbicara, sesekali terdengar suara tangis, dan sayup-sayup suara lantunan Al-Qur'an yang terdengar dari tempat sopir.

Ambulans melaju sekitar 20 menit ke arah timur, menuju pemakaman. Di sana, istri Firdaus menanti bersama petugas haji Linjam dan sejumlah jurnalis yang dalam sepekan terakhir turut melakukan pencarian Firdaus.

Jalan Firdaus

Setibanya di lokasi, terlihat beberapa orang berkumpul di pinggir jalan. Sebagian besar berpakaian coklat, yaitu seragam Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026. Benar saja, itu adalah para petugas haji yang mendampingi Nafsiah untuk melihat pemakaman suaminya.

Perempuan tidak bisa masuk ke area pemakaman di Arab Saudi, sehingga para petugas haji meminta sopir ambulans untuk membuka pintu belakang, agar Nafsiah bisa melihat Firdaus untuk terakhir kalinya.

Nafsiah begitu tegar, tidak ada tangis ketika dia melihat dan mendo'akan suami tercintanya. Justru, para petugas haji di sana yang tak kuasa menahan air mata melihat keteguhan hati Nafsiah.

Ambulans kembali ditutup dan kami masuk ke area pemakaman. Jenazah-jenazah diturunkan, lalu kembali dilakukan salat jenazah sebelum penguburan berlangsung.

Nafsiah menyaksikan dari jauh prosesi penguburan suaminya. Berdasarkan penuturan kawan-kawan jurnalis, saat penguburan itu Nafsiah melakukan panggilan video (video call) bersama keluarganya, agar mereka bisa melihat lokasi pemakaman, sembari mendo'akan Firdaus dari Indonesia.

Proses pemakaman selesai sekitar pukul 05.25 WAS. Kami berjalan keluar area pemakaman dan berkumpul di pinggir jalan, di sana kami berbincang dengan Nafsiah.

Salah seorang petugas menawarkan Nafsiah untuk berfoto di depan area pemakaman, tetapi Nafsiah justru meminta foto bersama. Untuk kenang-kenangan, katanya. Kami pun meminta bantuan salah seorang petugas keamanan yang berada di gerbang masuk pemakaman untuk mengambilkan gambar.

Selesai berfoto, salah seorang jurnalis mengambil video papan penanda arah pemakaman. Petugas keamanan itu memanggil-manggil dalam Bahasa Arab, seperti mengarahkan bahwa semestinya bukan penanda arah itu yang direkam, tetapi yang lainnya.

Setelah itu, dia mengayunkan tangan seperti menunjuk ke arah jalan. Salah seorang petugas haji yang berbicara Bahasa Arab menghampirinya, lalu dia menjelaskan maksud sang petugas keamanan.

"Nama jalan ini Firdaus," ujar sang petugas keamanan, yang menjelaskan tempat kami dan pemakaman itu berada.

Pak Firdaus meninggal dalam sunyi dan baru ditemukan sepekan setelah dia hilang. Do'a dari jutaan orang mengiringi kepergiannya, hingga dia beristirahat di pemakaman Jalan Firdaus.

Semoga do'a-do'a itu turut mengantarkan almarhum ke surga, terutama Surga Firdaus, yang merupakan tingkatan surga tertinggi.